Sabtu, 17 Mei 2014

Laporan Anatomi "Daun"

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Tumbuhan bukanlah hal asing lagi bagi kita semua, kita hidup membutuhkan tumbuh-tumbuhan, baik untuk dikonsumsi atau sebagai penyeimbang bumi, karena tanpa tumbuh-tumbuhan bumi ini akan sangat panas. Salah satu bagian dari tumbuhan adalah daun, dimana daun mampu berfotosintesis dan akan menghasilkan makanan sendiri bagi tumbuhan tersebut. Oleh karena itu sinar matahari sangat diperlukan dalam membantu proses fotosintesis. Selain itu diperlukan juga adanya klorofil, karbondioksida dan juga air (Iserep, 1993).
Daun merupakan alat yang penting bagi kelangsungan hidup tumbuhan, sebab disitu terjadi proses fotosintesis yang akan menghasilkan makanan bagi tumbuhan. Hasil fotosintesis akan didistribusikan ke seluruh organ untuk pertumbuhan dan perkembangan. Daun tidak seperti organ lain dari tumbuhan karena umumnya bersifat sementara. Untuk fotosintesis diperlukan sinar dan klorofil serta CO2 dan H2O sebagai bahan baku, dengan demikian posisi daun mempengaruhi strukturnya. Selain itu pengaruh lingkungan yang lain seperti ketersediaan air, adanya kadar garam yang tinggi dalam air disekitar tumbuhan juga berpengaruh terhadap struktur luar dan dalam dari daun (Savitri, 2008).
Baik dari segi morfologi maupun anatomi, daun merupakan organ yang amat beragam. Struktur jaringan pembuluh dalam tangkai dan tulang daun utama biasanya mirip dengan dalam batang. Ciri paling penting dalam daun adalah bahwa pertumbuhan apeksnya segera terhenti (Hidayat, 1995).
Dalam praktikum ini kita akan mengamati berbagai macam daun sehingga kita mampu mengamati dan mengidentifikasi tentang macam jaringan penyusun daun monokotil dan dikotil, membandingkan ciri-ciri khusus yang terdapat pada jaringan penyusun baik pada daun monokotil maupun pada daun dikotil, serta mengamati anatomi jaringan penyusun daun yang dihubungkan dengan adaptasi lingkungan tumbuhan.


1.3  Tujuan
Tujuan dari praktikum kali ini adalah :
  1. Mengamati dan mengidentifikasi macam jaringan penyusun daun monokotil.
  2. Mengamati dan mengidentifikasi macam jaringan penyusun daun dikotil.
  3. Membandingkan ciri-ciri khusus yang terdapat pada jaringan penyusun daun monokotil dan dikotil.
  4. Mengamati anatomi jaringan penyusun daun yang dihubungkan dengan adaptasi lingkungan tumbuhan.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Daun
Istilah bagi seluruh daun pada tanaman adalah phyllom. Namun, dikenal juga istilah daun hijau, katafil, hipsofil, kotiledon (keping biji), profil dan lain-lain. Daun hijau berfungsi khusus untuk fotosintesis dan biasanya berbentuk pipih mendatar sehingga mudah memperoleh sinar matahari dan gas CO2. katafil adalah sisik pada tunas atau pada batang dibawah tanah dan berfungsi sebagai pelindung atau tempat penyimpan cadangan makanan. Daun pertama pada cabang lateral disebut prophyll, pada monokotil hanya ada satu helai prophyll, pada dikotil ada dua helai. Hipsofil berupa berbagai jenis brakte yang mengiringi bunga dan berfungsi sebagai pelindung. Kadang-kadang hipsofil berwarna cerah dan berfungsi serupa dengan mahkota bunga. Kotiledon merupakan daun pertama pada tumbuhan (Hidayat, 1995).
Daun merupakan alat yang penting bagi kelangsungan hidup tumbuhan, sebab disitu terjadi proses fotosintesis yang akan menghasilkan makanan bagi tumbuhan. Hasil fotosintesis akan didistribusikan ke seluruh organ untuk pertumbuhan dan perkembangan. Daun tidak seperti organ lain dari tumbuhan karena umumnya bersifat sementara. Untuk fotosintesis diperlukan sinar dan klorofil serta CO2 dan H2O sebagai bahan baku, dengan demikian posisi daun mempengaruhi strukturnya. Selain itu pengaruh lingkungan yang lain seperti ketersediaan air, adanya kadar garam yang tinggi dalam air disekitar tumbuhan juga berpengaruh terhadap struktur luar dan dalam dari daun (Savitri, 2008).
Daun terbagi menjadi daun tunggal dan daun majemuk. Pada daun majemuk terdapat sejumlah anak daun yang melekat pada tangkai dun atau panjangannya. Sumbu bersama itu disebut rakis. Jika anak daun muncul disisi lateral dari rakis, daun disebut majemuk bersirip, dan kalau semua anak daun muncul di ujung rakis yang amat pendek sehingga dapat dikatakan melekat di ujung tangkai daun bersama, maka daun seperti itu disebut daun majemuk menjari (Tjitrosoepomo, 1993).
2.2 Histologi Daun
Daun yang lengkap terdiri atas helai daun (lamina), tangkai daun (petiolus), dan pelepah daun (vagina). Bentuk dan ukuran daun berbiji sangat bervariasi. Seperti halnya batang dan akar, daun juga tersusun atas beberapa sistem jaringan yaitu jaringan pelindung, jaringan dasar yang menyusun mesofil daun, jaringan pengangkut (Savitri, 2008).
Seperti pada akar dan batang, daun terdiri dari sistem jaringan dermal, yakni jaringan epidermis, jaringan pembuluh dan jaringan dasar yang disebut mesofil. Karena daun biasanya tidak mengalami penebalan sekunder, epidermis bertahan sebagai sistem dermal, namun pada sisik tunas yang bertahan lama ada kemungkinan dibentuk periderm (Hidayat, 1995: 198).
2.2.1   Epidermis
Sifat terpenting daun adalah susunan selnya yang kompak dan adanya kutikula dan stomata. Stomata bisa ditemukan dikedua sisi daun (daun amfistomatik) atau hanya di satu sisi yakni disebelah atas atau adaksial (daun epistomatik) atau lebih sering disebelah bawah atau sisi abaksial (daun hipostomatik). Pada daun lebar yang terdapat di kelompok dikotil, letak stomata tersebar. Pada monokotil dan Gymnospermae, stomata sering tersusun dalam deretan memanjang yang sejajar dengan sumbu daun. Sel penutup pada stomata dapat berada ditempat yang sama tingginya, lebih tinggi atau lebih rendah dari epidermis (Hidayat, 1995).
      
Dinding sel epidermis mengalami penebalan yang tidak merata. Dinding sel yang menghadap keluar umumnya berdinding lebih tebal, dapat terdiri dari lignin, tetapi penebalan itu umumnya terdiri dari kutin. Penebalan kutin ini membentuk lapisan kutikula yang tipis atau tebal. Sel-sel epidermis daun tidak mengandung kloroplas kecuali pada sel penutup dan epidermis daun tumbuhan yang hidup tenggelam dalam air. Stomata berguna sebagai jalan pertukaran gas pada tumbuhan dan sebagai pengatur besarnya transpirasi (Savitri, 2008).
Epidermis daun terdapat dipermukaan atas disebut epidermis atas (epidermis adaksial atau epidermis ventral) maupun dipermukaan bawah disebut epidermis bawah (epidermis abaksial atau epidermis dorsal). Umumnya epidermis terdiri dari 1 lapis sel tetapi adapula yang terdiri dari beberapa lapis sel (epidermis ganda, multiple epidermis). Jumlah lapisan sel epidermis bagian atas biasanya lebih banyak daripada permukaan bawah. Jumlah epidermis bawah berlapis banyak maka akan terdapat ruang substomata yang besar antara sel penutup dengan jaringan mesofil (Iserep, 1993).
2.2.2   Mesofil
Mesofil merupakan lapisan jaringan dasar yang terletak antara epidermis atas dan epidermis bawah dan di antara berkas pengangkut. Mesofil dapat tersusun atas parenkim yang relatif homogen atau berdifferensiasi menjadi parenkim palisade (jaringan tiang), jaringan pagar dan parenkim sponsa (jaringan bunga karang). Sesuai dengan fungsinya parenkim mesofil merupakan daerah fotosintesis terutama karena mengandung kloroplas (Savitri, 2008).
Bagian utama helai daun adalah mesofil yang banyak mengandung kloroplas dan ruang antarsel. Mesofil dapat bersifat homogen atau terbagi menjadi jaringan tiang (palisade) dan jaringan spons (jaringan bunga karang). Jaringan tiang lebih kompak daripada jaringan spons yang memiliki ruang antarsel yang luas. Jaringan tiang terdiri dari sejumlah sel yang memanjang tegak lurus terhadap pemukaan helai daun. Meskipun jaringan tiang nampak lebih rapat, sisi panjang selnya saling terpisah sehingga udara dalam ruang antarsel tetap mencapai sisi panjang, kloroplas pada sitoplasma melekat di tepi dinding sel itu. Hal tersebut mengakibatkan proses fotosintesis dapat berlangsung efisien (Hidayat, 1995).
Parenkim palisade merupakan sel-sel yang bentuknya silindris, tersusun rapat berjajar seperti pagar. Daun yang memiliki parenkim palisade di lapisan atas atau parenkim spongiosa di lapisan bawahnya disebut daun dosiventral atau bifasial. Apabila parenkim palisade terdapat di kedua sisi atau tidak dijumpai parenkim palisade pada kedua sisinya disebut daun isobilateral atau isolateral atau unifasial. Parenkim sponsa tersusun atas sel-sel yang bentuknya bervariasi, umumnya tidak teratur, bercabang-cabang, berisi kloroplas dan tersusun sedemikian rupa sehingga membentuk jaringan seperti bunga karang (sponsa) (Sutrian, 2004).
             
Jaringan spons terdiri dari sel bercabang yang teratur bentuknya. Hubungan antara sel dan sel lainnya terbatas pada ujung cabang itu. Dilihat dari hubungan antara sel-sel yang berdampingan maka jaringan spons memiliki kesinambungan horizontal yang sejajar dengan permukaan daun, sedangkan jaringan tiang sinambung hanya dalam arah tegak lurus terhadap permukaan (Fahn, 1991).
Menurut bentuknya parenkim dapat dibedakan sebagai berikut (Iserep, 1993) :
a)       Parenkim palisade adalah parenkim dengan bentuk sel panjang, tegak dan mangandung kloroplas. Contoh : mesofil daun.
b)      Parenkim bunga karang adalah parenkim dengan bentuk dan susunan selnya tidak teratur dan ruang antarsel relatif besar. Contoh : mesofil daun.
c)       Parenkim bintang adalah parenkim yang bentuknya seperti bintang, saling berhubungan di ujungnya sehingga banyak mempunyai ruang antarsel.
d)      Parenkim lipatan adalah parenkim yang dinding selnya mengalami pelipatan kearah dalam serta banyak mengandung kloroplas.
2.2.3   Sistem Jaringan Pengangkut
Pada daun terletak di dalam tulang daun beserta vena-venanya. Pada penampang melintang daun, berkas pengangkut ini terdiri dari 1 ikatan pembuluh, yang xylemnya terletak menghadap ke permukaan atas daun dan floemnya ke permukaan bawah daun. Pada tulang daun yang lebih kecil atau vena daun, berkas pengangkutnya dapat lebih sederhana dan kadang-kadang tidak sempurna terdiri atas xylem saja atau floem saja (Loveless, 1987).
Sistem jaringan pembuluh tersebar diseluruh helai daun dan dengan demikian menunjukkan adanya hubungan ruang yang erat dengan mesofil. Jaringan pembuluh membentuk sistem yang saling berkaitan, dan terletak dalam bidang median, sejajar dengan permukaan daun. Berkas pembuluh dalam daun biasanya disebut tulang daun dan sistemnya adalah sistem tulang daun (Hidayat, 1995).
Istilah sejajar bagi jalanya berkas pembuluh dalam sistem tulang sejajar hanyalah cara pendekatan saja, oleh karena itu di ujung dan pangkal daun semua berkas itu akan bertemu. Di antara berkas sejajar itu tampak cabang halus yang berpola jala dan menghubungkan semua berkas sejajar itu. Pola jala umumnya terdapat pada daun dikotil, sedangkan pola sejajar biasa ditemukan pada monokotil. Dalam pola berkas pembuluh percabangan akhir yang paling halus akan membatasi daerah mesofil kecil yang dinamakan areolus (Kimball,1994).






BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum kali ini dilaksanakan pada hari Kamis Tanggal 24 Mei 2010 jam 15.00-17.00 WIB Di Laboratorium Pendidikan Biologi B Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang.
         
3.2  Alat dan Bahan
3.2.1 Alat      
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah :
  1. Mikroskop majemuk                                          1   buah
  2. Gelas benda dan penutup                                  5   buah
  3. Kaca penutup                                                     5   buah
  4. Silet                                                                    1   buah
  5. Pipet tetes                                                          1   buah
3.2.2 Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah :
  1. Daun kacang (Arachis hypogea)                       1   buah
  2. Daun jagung (Zea mays)                                    1   buah
  3. Daun talas (Colocasia)                                       1   buah
3.3 Cara Kerja
Cara kerja pada praktikum kali ini adalah :
  1. Di ambil preparat awetan irisan melintang daun kacang (Arachis hypogea). Di amati dibawah mikroskop, diperhatikan sel-sel epidermisnya, ada berapa lapiskah? Di amati lapisan yang tebal. Di perhatikan stomatanya, ditunjukkan berkas pengangkut yang terletak di bagian pusat, disebutkan tipenya. Diperhatikan juga jaringan endodermis yang membatasi korteks dan stele. Dihitung berapa lapis endodermisnya? Digambar sebagian secara rinci dengan melibatkan berkas pengangkutnya yang lengkap.
  2. Di ambil preparat awetan irisan melintang daun jagung (Zea mays). Di amati dibawah mikroskop, diperhatikan sel-sel epidermisnya, ada berapa lapiskah? Di amati lapisan yang tebal. Di perhatikan stomatanya, ditunjukkan berkas pengangkut yang terletak di bagian pusat, disebutkan tipenya. Diperhatikan juga jaringan endodermis yang membatasi korteks dan stele. Dihitung berapa lapis endodermisnya? Digambar sebagian secara rinci dengan melibatkan berkas pengangkutnya yang lengkap.
  3. Di ambil preparat awetan irisan melintang daun talas (Colocasia). Di amati dibawah mikroskop, diperhatikan sel-sel epidermisnya, ada berapa lapiskah? Di amati lapisan yang tebal. Di perhatikan stomatanya, ditunjukkan berkas pengangkut yang terletak di bagian pusat, disebutkan tipenya. Diperhatikan juga jaringan endodermis yang membatasi korteks dan stele. Dihitung berapa lapis endodermisnya? Digambar sebagian secara rinci dengan melibatkan berkas pengangkutnya yang lengkap.





BAB IV
PEMBAHASAN




4.1.1  Daun kacang (Arachis hypogea)
Pada pengamatan daun kacang (Arachis hypogea) dapat terlihat epidermis atas, epidermis bawah, klorofil, stomata, trikoma berbentuk bintang, mesofil daun, jaringan spons (bunga karang) dan jaringan palisade (tiang).
Di bawah epidermis terdapat jaringan palisade, pada jaringan palisade tampak warna hijau karena pada jaringan ini terdapat banyak klorofil. Di bawah jaringan palisade terdapat jaringan pengangkut yang akan membawa hasil fotosintesis dari daun menuju keseluruh tubuh tumbuhan. Jaringan spons terdapat di bawah jaringan pengangkut dan di bawahnya terdapat epidermis bawah (Sutrian, 2004).
Jaringan epidermis pada daun mempunyai derivat berupa stomata. Stomata adalah berupa suatu pintu yang mempunyai dua sel penutup di kedua samping kanan dan kirinya. Stomata biasa berada pada bagian atas atau bawah daun. Stomata dapat berfungsi sebagai pintu masuk udara yang digunakan untuk fotosintesis dan udara yang dikeluarkan dari hasil fotosintesis. Stomata juga berfungsi dalam evaporasi untuk menjaga kestabilan air dalam tubuh tumbuhan (Hidayat, 1995).
Pada sekitar tulang daunnya, terdapat bagian yang menonjol, bagian yang menonjol ini adalah tulang daun yang berfungsi sebagai penopang helaian daun dan sebagai tempat jaringan angkut. Susunan anatomi jaringan daun setelah epidermis terdapat jaringan  mesofil daun yang tersusun atas jaringan palisade, jaringan spons dan jaringan pembuluh. Jaringan pembuluh tersusun atas floem dalam, xylem, kambium dan floem luar (Fahn, 1991).
4.1.2  Daun jagung (Zea mays)
Pada pengamatan daun jagung (Zea mays) dapat terlihat epidermis atas, epidermis bawah, klorofil, stomata, sel kipas, mesofil daun, jaringan spons (bunga karang), jaringan pembuluh dan jaringan palisade (tiang). Disini stomata, jaringan spons (bunga karang), jaringan palisade (tiang) dan jaringan pembuluh tidak tampak karena preparat yang di amati terlalu kecil.
Sistem jaringan pengangkut pada daun terletak didalam tulang daun beserta vena-venanya, pada penampang melintang daun, berkas pengangkut ini terdiri dari 1 ikatan pembuluh, yang xylemnya terletak menghadap ke permukaan atas daun dan floemnya ke permukaaan bawah daun (Savitri, 2008).
Jaringan setelah epidermis terdapat jaringan mesofil daun yang tersusun atas jaringan palisade (tiang), jaringan spons (bunga karang) dan jaringan pembuluh (xylem dan floem). Pada epidermis bawah daun terdapat sel-sel kipas. Sel-sel kipas terletak sejajar dengan permukaan epidermis luar, ukuran sel-sel kipas tidak sama panjangnya, karena itulah sel-sel ini disebut sel kipas seperti bentuknya yang menyerupai kipas. Jaringan epidermis pada daun monokotil sel-sel epidermis di lindungi oleh lapisan kutikula yang menyebabkan daun menjadi kaku, stomata sering tersusun dalam deretan memanjang yang sejajar dengan sumbu daun (Hidayat, 1995).)
Fungsi jaringan penyusun mesofil tidak lain secara besar untuk membantu proses fotosintesis. Sel-sel jaringan palisade terdapat banyak sekali kloroplas yang disebut sebagai warna fotosintesis. Rongga-rongga antara sel-sel jaringan palisade dan spons juga membantu memperlancar proses pertukaran udara yaitu oksigen dan karbondioksida. Hasil fotosintesis akan diedarkan oleh jaringan pengangkut yaitu floem sedangkan zat hara mineral untuk bahan fotosintesis dibawa oleh xylem dan semua saling bekerja sama (Loveless, 1987).

4.1.3    Daun talas (Colocasia)
Pada pengamatan daun talas (Colocasia) dapat terlihat epidermis atas, epidermis bawah, mesofil daun, jaringan palisade (tiang), jaringan spons (bunga karang), jaringan pembuluh, stomata, klorofil, dan trikoma.
Daun terdiri dari sistem jaringan dermal, yaitu diantaranya mesofil yang banyak mengandung kloroplas. Mesofil dapat bersifat homogen atau terbagi menjadi jaringan tiang (palisade) dan jaringan spons (bunga karang). Jaringan tiang lebih kompak dari pada jaringan spons yang memiliki ruang antarsel yang luas. Jaringan tiang terdiri dari sejumlah sel yang memanjang tegak lurus terhadap permukaan helai daun (Hidayat, 1995).
Jaringan epidermis adalah jaringan paling luar dari daun dan berfungsi untuk pelindung jaringan dibawahnya juga sebagai tempat keluar masuknya udara dan evaporasi, karena pada epidermis mempunyai stomata yang merupakan derivat epidermis. Epidermis terlapisi oleh lapisan yang tipis dan bening. Lapisan ini adalah lapisan lilin yang menyebabkan epidermis tidak mudah kemasukan air. Dari fenomena ini sering kita lihat bahwa jika air mengenai daun talas maka air itu akan tetap  menggumpal dan tidak terserap oleh daun dan akhirnya akan jatuh. Lapisan lilin inilah yang menyebabkan daun talas seolah-olah anti air (Loveless, 1987).





BAB V
KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat kita ambil dari praktikum tentang daun kali ini adalah sebagai berikut :
  1. Pada daun kacang (Arachis hypogea) dapat terlihat epidermis atas, epidermis bawah, klorofil, stomata, trikoma berbentuk bintang, mesofil daun, jaringan spons (bunga karang) dan jaringan palisade (tiang).
  2. Pada daun jagung (Zea mays) dapat terlihat epidermis atas, epidermis bawah, klorofil, stomata, sel kipas, mesofil daun, jaringan spons (bunga karang), jaringan pembuluh dan jaringan palisade (tiang). Disini stomata, jaringan spons (bunga karang), jaringan palisade (tiang) dan jaringan pembuluh tidak tampak karena preparat yang di amati terlalu kecil.
  3. Pada daun talas (Colocasia) dapat terlihat epidermis atas, epidermis bawah, mesofil daun, jaringan palisade (tiang), jaringan spons (bunga karang), jaringan pembuluh, stomata, klorofil, dan trikoma.
DAFTAR PUSTAKA
Fahn A. 1991. Anatomi Tumbuhan Edisi Ketiga. Yogyakarta : UGM Press
Hidayat, Estiti B. 1995. Anatomi Tumbuhan Berbiji. Bandung : ITB
Iserep, Sumardi. 1993. Struktur dan Perkembangan Tumbuhan. Bandung : ITB
Kimball, John W. 1994. Biologi Edisi Kelima Jilid 2. jakarta : Erlangga
Loveless A. R. 1987. Prinsip-prinsip Biologi Tumbuhan Untuk Daerah Tropik Jilid I. Jakarta : PT Gramedia Utama
Savitri, sandi, Evika, MP. 2008. Petunjuk Praktikum Struktur Perkembangan Tumbuhan (Anatomi Tumbuhan). Malang : UIN Press
Sutrian, Yayan Drs. 2004. Pengantar Anatomi Tumbuh-Tumbuhan Tentang Sel dan Jaringan. Jakarta : PT Rineka Cipta
Tjitrosoepomo, Gembong. 1993. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta :  UGM Press

LAPORAN ANATOMI "BUNGA "

BAB I
PENDAHULUAN
I. I  Latar belakang
 Bunga merupakan alat reproduksi seksual. Suatu bunga yang lengkap mempunyai daun kelopak, daun mahkota, benang sari, putik, dan daun buah. Bunga terdiri atas bagian yang fertil, yaitu benang sari dan daun buah, serta bagian yang steril yaitu daun kelopak dan daun mahkota.  Tumbuhan dapat memperbanyak diri atau berkembang biak. Yang dapat menjadi tumbuhan baru adalah suatu bagian tubuh tumbuhan. Yang kemudian dapat memisahkan diri atas oleh manusia dengan sengaja dipisahkan dari tumbuhan yang lama (Sumardi, 1993).
Bagian tubuh tumbuhan yang dapat merupakan alat perkembangbiakan disebut dengan  bunga, oleh karena itu alat perkembangbiakan dapat dibedakan menjadi alat perkembangbiakan vegetatif dan alat perkembangan generatif yang pada tumbuhan adalah bijinya. Biji terdapat dalam buah, dan buah berasal dari bunga. Bunga mempunyai susunan  yang bermacam- macam yaitu bunga tunggal dan bunga majemuk. Yang mempunyai bagian- bagian seperti tangkai bunga (pedicellus),  Dasar bunga (reseptaculum), dan lain- lain (Tjitrosoepomo, 1995).
I. 2 Rumusan masalah
            Adapun rumusan masalah dari praktikum anatomi bunga ini antara lain:
1.    Bagaimana struktur anatomi bagian-bagian bunga seperti : sepalum, petalum, benang sari, dan putik ?
I.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dipaparkan, maka di dapatkan tujuannya sebagai berikut:
1.    Untuk mengetahui struktur anatomi bagian-bagian bunga seperti : sepalum, petalum, benang sari, dan putik
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2. 1 Pengertian bunga
            Bunga merupakan alat reproduksi seksual. Suatu bunga yang lengkap mempunai daun kelopak, daun mahkota, benang sari, putik, dan daun buah. Bunga terdiri atas bagian yang fertil, yaitu benang sari dan daun buah, serta bagian yang steril yaitu daun kelopak dan daun mahkota. Bunga adalah bagian tumbuhan yang berfungsi sebagai alat untuk mengadakan penyerbukan dan pembuahan sehingga terbentuk buah dengan biji yang digunakan untuk perkembangbiakan generatif pada tumbuhan biji. Bagian tubuh tumbuhan yang kemudian dapat tumbuh menjadi individu baru dinamakan : alat perkembangan (organum reproductivum). Dan bagian tubuh tumbuhan yang dapat merupakan alat perkembangbiakan sangat bermacam- macam, oleh karena itu alat perkembangbiakan dapat dibedakan menjadi alat perkembangbiakan vegetatif dan alat perkembangan generatif yang pada tumbuhan adalah bijinya. Biji terdapat dalam buah, dan buah berasal dari bunga (Sumardi, 1993).
            Bagian tubuh tumbuhan yang dapat merupakan alat perkembangbiakan disebut dengan  bunga, oleh karena itu alat perkembangbiakan dapat dibedakan menjadi alat perkembangbiakan vegetatif dan alat perkembangan generatif yang pada tumbuhan adalah bijinya. Biji terdapat dalam buah, dan buah berasal dari bunga. Bunga mempunyai susunan  yang bermacam- macam yaitu bunga tunggal dan bunga majemuk. Yang mempunyai bagian- bagian seperti tangkai bunga (pedicellus),  Dasar bunga (reseptaculum), dam lain- lain (Tjitrosoepomo, 1995).
2.2 Bagian- bagian bunga
            Bagian- bagian bunga antara lain :
a.       Tangkai bunga (pedicellus), yang bagian bunga yang masih jelas bersifat batang.
b.      Dasar bunga (reseptaculum), yaitu ujung tangkai yang seringkali melebar, dengan ruas- ruas yang amat pendek, sehingga daun– daun yang telah mengalami metamorfosis menjadi bagian- bagian bunga.
c.       Hiasan bunga (perianthium),
-          Kelopak (kalyx), yaitu bagian hiasan bunga yang nmerupakan lingkaran luar, biasanya berwarna hijau,
-          Tajuk bunga (corolla), yaitu bagian hiasan bunga yang terdapat pada lingkar dalam, biasanya tidak berwarna hijau lagi.
d.      Alat- alat kelamin jantan (androecium): bagian ini sesungguhnya juga merupakan metamorfosis daun yang menghasilkan serbuk sari (stamen),
e.       Alat- alat kelamin betina (gynaecium), yang pada bunga merupakan bagian yang biasanya disebut putik (pistillum).
Melihat bagian- bagian bunga (tangkai dan dasar bunganya tidak terhitungkan),  maka bunga dapat dibedakan dalam :
-          Bunga lengkap atau sempurna (flos completusl), yang terdiri atas : 1 lingkaran daun- daun  kelopak, 1 lingkaran daun- daun mahkota, 1 atau 2 lingkaran benang sari dan satu lingkaran daun- daun buah. Bunga yang bagian- bagiannya tersusun dalam 4 lingkaran.
Bunga terdiri atas sebuah sumbu yang padanya organ-organ bunga yang lain tumbuh. Bagian dari sumbu yang merupakan ruas yang berakhir dengan tangkai bunga (pedisel). Ujung distal pedisel ini mengembang dengan panjang yang beragam dan bagian ini disebut reseptakael bunga (talamus). Organ-organ bunga melekat pada reseptakel. Sebuah bunga yang khas mempunyai empat macam organ. Organ-organ yang paling luar adalah sepal yang secara bersama-sama membentuk kaliks yang biasanya berwaran hijau dan ditemukan paling rendah kedudukannya pada reseptakel. Disebelah dalam sepal adalah corolla yang terdiri atas petal, pada umumnya berwarna yang membentuk perhiasan bunga. Bila semua perhiasan bunga itu sama, mereka disebut tepal. Di dalam perhiasan bunga dijumpai dua macam organ reproduksi, yang sebelah luar disebut stamen yang bersma-sama membentuk androsium, dan sebelah dalam di sebut karpel yang membentuk ginesium (Fahn, 1991).
Jumlah lapisan dinding kepala sari bervariasi. Lapisan dinding ini merupakan diferensiasi dari lapisan parietal primer, yang terletak disebelah dalam epidermis. Epidermis merupakan lapisan dinding terluar, kadang-kadang berbentuk papila. Endotesium, terletak di bawah epidermis. Pada waktu kepala sari masak, endotesium membentuk dinding sekunder, pada bagian antiklinal dan dinding tangensial bagian dalam. Penebalan antiklinal menyebabkan terbentuknya struktur yang berserabut oleh karena itu endotesium sering disebut lamina fibrosa. Lapisan tengah terletak sebelah dalam endotesium, yang terdiri atas 2-3 lapisan sel. Pada waktu kepala sari masak, sel-selnya terdesak oleh endotesium, sehingga lapisan ini disebut pula lapisan tertekan. Tapetum, merupakan lapisan terdalam dari dinding kepala sari. Sel-selnya mengandung protoplas yang padat dengan inti yang jelas. Tapetum mempunyai fungsi nutritif bagi sel induk serbuk sari maupun serbuk sari yang masih muda. Serbuk sari yang telah masak keluar melalui lubang yang terjadi pada dinding antera yang disebut stomium. Serbuk sari berasal dari sel induk serbuk (Sumardi, 1993).
 

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum Struktur Perkembangan Tumbuhan tentang Anatomi ” Bunga ” ini dilakukan pada hari Kamis tanggal 14 Mei 2009 di Laboratorium Biologi Pendidikan Dasar I Universitas Islam Negeri Malang pada pukul 07.00- 09.00 WIB.
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
Alat- alat yang digunakan pada praktikum ini antara lain:
1.       Mikroskop                                       1 buah
2.       Kaca benda                                      5 buah
3.       Tutup benda                                     5 buah
4.       Pisau silet                                        1 buah
5.       Pipet tetes                                        1 buah
6.       Pinset                                              1 buah
3.2.2 Bahan
Bahan- bahan yang digunakan pada praktikum ini antara lain :
1. Tangkai bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis).
2. Putik bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis).
3. Benang sari bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis).
4. Bakal buah buah sepatu (Hibiscus rosasinensis).
3.3 Cara kerja
3.3.1 Preparat tangkai bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis).
1.       Dibuat irisan melintang dari tangkai bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis).
2.       Diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran 10x40.
3.       Digambar dan dicari bagian-bagiannya.
3.3.2 Preparat putik bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis).
1.         Dibuat irisan melintang dari putik bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis).
2.         Diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran 10x40.
3.         Digambar dan dicari bagian-bagiannya.
3.3.3 Preparat benang sari bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis).
1.         Dibuat irisan melintang dari benang sari bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis).
2.         Diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran 10x40.
3.         Digambar dan dicari bagian-bagiannya.
3.3.4 Bakal buah bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis).
1.         Dibuat irisan melintang dari bakal buah  bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis).
2.         Diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran 10x40.
3.         Digambar dan dicari bagian-bagiannya

BAB IV
 PEMBAHASAN
4.1Pembahasan
4.1.1  Pada benang sari bunga sepatu (Hibiscus rosa-sinensis)
      Pada hasil pengamatan yang telah kami lakukan pada benang sari bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis) dilakukan dengan menggunakan mikroskop perbesaran 10x40, adanya dinding mikrospora yang berwarna cokelat kekuning-kuningan, sedangkan warna dari serbuk sari berwarna kuning, dan terdapat konektium, tapetum, mikrospora tetra, jaringan epidermis, dan endotesium.
Stamen terdiri dari tangkai sari atau filamen dan dibagian distal terdapat kepala sari atau antera. Pada antera biasanya terdapat dua bagian, masing-masing bercuping dua. Kedua bagian antera bersambungan di tengah dengan penghubung kepala sari, atau konektivum. Setiap bagian mengandung dua buah kantung sari atau kumpulan karpel yang bersatu menjadi ginesium. Biasanya terdiri dari 3 bagian, yakni bakal buah dengan bakal biji atau ovulum, tangkai putik atau stylus, serta kepala putik atau stigma yang strukturnya memudahkan polinasi (Hidayat, 1995).
 Benang sari terdiri atas kepala sari dan tangkai sari. Tangkai sari tersusun oleh jaringan dasar, yaitu sel-sel parenkimatis yang menyerupai vakuola, tanpa ruang antar sel. Sel-sel ini sering mengandung pigmen, epidermis dengan kutikula, trikhoma, mungkin stomata dan mungkin juga stomata tetap terbuka seperti pada hidatoda. Kepala sari mempunyai struktur yang sangat kompleks, terdiri atas dinding yang berlapis-lapis, dan dibagian terdapat loculus ruang sari (mikrosporangium) yang berisi butir-butir serbuk sari (Sumardi, 1993).
4.1.2 Bakal buah bunga sepatu (Hibiscus rosa-sinensis).
Pada pengamatan yang kami lakukan dilakukan dengan menggunakan mikroskop perbesaran 10x40,  pada bakal buah bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis) terdapat adanya bakal buah, bakal biji, serta ruang bakal buah, dan ditemukan plasmalema serta jaringan pengangkut.
Bakal buah dibedakan menjadi dinding bakal buah dan ruang bakal buah. Pada bakal buah beruang banyak terdapat sekat pemisah. Bakal biji atau ovulum terdapat pada daerah dinding bakal buah dalam (adaksial) yang disebut plasenta (Savitri, 1995).
Pembentukan megasfora melalui peristiwa sel induk megasfora disebut megasforogenesis. Megasfora bisa dikatakan juga sebagai kantung embrio, dan akan berkecambah dengan terjadinya mitosis pada intinya yang akhirnya memberikan kantung embrio dewasa yang berinti delapan. Di banyak Angiospermae, kantong embrio matang berisi 8 inti, masing-masing sering mempunyai dinding sel. Ketiga sel dekat dengan mikropil yaitu sel telur dan dua sel sinergid. Di dekat kalaza terdapat 3 sel antipoda. Dua buah inti di tengah di sebut inti polar. Jika keduanya bersatu, jumlah sel dalam kantung embrio menjadi 7. Sel antipoda sering berdegenerasi di awal pertumbuhan. Pada sinergid biasanya terdapat penebalan dinding yang disebut aparat filiform (seperti benang) yang meluas dibagian sel dekat mikropil (Hidayat, 1995).
Setiap bakal biji atau ovulum melekat pada dinding ovarium dengan adanya tangkai bakal biji (funikulus) yang mengandung satu berkas pembuluh. Bakal biji terdiri dari jaringan tengah atau nuselus, dilingkari dengan integumen dalam dan integumen luar. Kedua integumen mengelilingi satu saluran yang bermuara di pori, disebut mikropil. Daerah nukleus, integumen, dan funikulus berhubungan disebut kalaza, sering terletak berhadapan dengan mikropil. Tabung sari tumbuh melalui mikropil di saat fertilisasi. Sebagaimana pada tapetum antera, nukleus biasanya sudah tak ada ketika bakal biji mencapai taraf dewasa karena telah berdegenerasi (Hidayat, 1995).
4.1.3 Tangkai putik bunga sepatu (Hibiscus rosa-sinensis)
 Pada pengamatan yang telah dilakukan pada bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis) dilakukan dengan menggunakan mikroskop perbesaran 10x40. ditemukan yaitu adanya jaringan angkut, jaringan epidermis, jaringan parenkim, dan terdapat beberapa trikoma pada bagian epidermis.
Stylus merupakan bagian karpel yang memanjang ke atas (distal). Pada kebanyakan angiospermae, stylusnya padat dan jaringan di tengah terspesialisasi menjadi jaringan transmisi yang merupakan jalan bagi buluh serbuk sari untuk mencapai bakal biji. Stylus ada yang berongga dan ada yang padat. Pada stylus yang berongga, butir sari berkecambah dan menghasilkan tabung sari yang kemudian tumbuh melalui tepi rongga tangkai sari yang dilapisi sel sekresi. Pada stylus padat melalui jaringan transmisi. Jaringan transmisi  menyediakan nutrisi yang berfungsi untuk membantu pertumbuhan buluh serbuk sari melalui stylus. Jaringan dasar stylus bersifat parenkim dan ditembus oleh berkas pembuluh angkut (Savitri, 2005).
4.1.4  Putik bunga sepatu (Hibiscus rosa-sinensis)
Pada pengamatan yang telah dilakukan pada bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis dilakukan dengan menggunakan mikroskop perbesaran 10x40. ditemukan adanya stigma kering yang berwarna merah, stigma basah yang berwarna orange, serta adanya butir sari berwarna kuning.
Putik tediri dari dari kepala putik, tangkai kepala putik, dan bakal buah. Tangkai kepala putik juga terdiri dari jaringan parenkimatis. Pada kepala putik kadang dijumpai papilla pada epidermisnya. Bakal buah meliputi dinding bakal buah yang ruang ovariumnya lebih dari satu dapat ditemukan septum. Dinding bakal buah parenkimatis dan didalamnya terdapat berkas pengangkut. Berkas pengangkut juga dapat dijumpai dalam septum. Di dalam ruang bakal buah ditemukan juga bakal biji yang tersusun dari jaringan parenkimatis (Savitri,2008).
  


BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari hasil pengamatan dan dari beberapa sumber literatur maka dapat diambil kesimpulan :
1.      Pada hasil pengamatan yang telah kami lakukan pada benang sari bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis) dilakukan dengan menggunakan mikroskop perbesaran 10x40, adanya dinding mikrospora yang berwarna cokelat kekuning-kuningan, sedangkan warna dari serbuk sari berwarna kuning, dan terdapat konektium, tapetum, mikrospora tetra, jaringan epidermis, dan endotesium.
2.      Pada pengamatan yang kami lakukan dilakukan dengan menggunakan mikroskop perbesaran 10x40,  pada bakal buah bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis) terdapat adanya bakal buah, bakal biji, serta ruang bakal buah, dan ditemukan plasmalema serta jaringan pengangkut.
3.      Pada pengamatan yang telah dilakukan pada bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis) dilakukan dengan menggunakan mikroskop perbesaran 10x40. ditemukan yaitu adanya jaringan angkut, jaringan epidermis, jaringan parenkim, dan terdapat beberapa trikoma pada bagian epidermis.
4.      Pada pengamatan yang telah dilakukan pada bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis dilakukan dengan menggunakan mikroskop perbesaran 10x40. ditemukan adanya stigma kering yang berwarna merah, stigma basah yang berwarna orange, serta adanya butir sari berwarna kuning.

DAFTAR PUSTAKA
Fahn, A. 1991. Anatomi Tumbuhan Edisi 3. Yogyakarta : Universitas Gajah Mada Press.
Hidayat, Estiti B. 1995. Anatomi Tumbuhan Berbiji. Bandung: ITB.
Sumardi, Issrep. 1993. Struktur dan Perkembangan Tumbuhan. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada Press.
Resmisari, Ruri. 2008. Power Poin Jaringan. Malang: Universitas Islam Negeri Malang.
Tjitrosoepomo, Gembong. 1995. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta: Universitas
Gadjah Mada Press
 

Lisosom

Lisosom (Artikel Lengkap) 


SEJARAH PENEMUAN DAN PENGERTIAN LISOSOM
Lisosom adalah organel pencerna pada sel hewan dan di temukan disemua sel eukariotik.Lisosom berasal dari kata lyso = pencernaan dan soma = tubuh. Lisosom adalah struktur yang agak bulat dan dibatasi oleh membran tunggal. Lisosom berasal dari kata lyso yang berarti pencernaan, dan som artinya tubuh. Lisosom yaitu organel yang berfungsi untuk mencerna atau menghancurkan suatu zat atau bahan. Organel ini berbentuk bundar, diselaputi selapis unit membran dengan diameter bervariasi. Membrane itu tahan terhadap lysis dan impermeable terhadap enzim-enzim yang dikandungnya. Dengan demikian enzim-enzim itu tidak merembes ke sitoplasma dan mencerna organel lain.Lisosom adalah tempat pencernaan intrasel dan pergantian komponen intrasel. Lisosom adalah kantung terbungkus membran yang mengandung enzim-enzim hidrolitik kuat yang mampu mencerna dan, dengan demikian menyingkirkan berbagai sisa sel dan benda asing yang tidak diinginkan, seperti bakteri yang masuk ke dalam sel. Lisosom adalah satu dari benda kecil yang terdapat dalam berbagai jenis sel yang mengandung berbagai enzim hidrolitik dan secara normal berperanan pada proses pencernaan intrasel terbatas. Lisosom merupakan organel yang sangat kecil dibandingkan dengan organel-organel lain.Umumnya berukuran 0,2 – 0,5 μm.Lisosom dihasilkan oleh badan golgi(berasal darivesikula badan golgiyang lepas) dan tersebar disitoplasma dalam jumlah besar.Lisosom terdapat hampir pada semua sel eukariotik.
            Istilah lisosom diperkenalkan oleh de Duve dkk(1955). Pertama  kali menemukan organel ini pada sel hati tikus.kemudian th 1963 mereka mengemukakan pula bahwa lisosom adalah kantung berisi enzim hidrolisa yang aktif dalam medium berPH asam. Namun jauh sebelum itu pada akhir tahun 1800, E. Metchnifoff dan paul Erlich telah mengamati granula pada leukosit yang diduga ada hubungannya dengan  pencernaan intrasel 
PEMBENTUKAN LISOSOM
Enzim lisosom adalah suatu protein yang diproduksi oleh ribosom dan kemudian masuk ke dalam RE. Dari RE enzim dimasukkan ke dalam membran kemudian dikeluarkan ke sitoplasma menjadi lisosom. Selain ini ada juga enzim yang dimasukkan terlebih dahulu ke dalam golgi. Oleh golgi, enzim itu dibungkus membran kemudian dilepaskan di dalam sitoplasma. Jadi proses pembentukan lisosom ada dua macam, pertama dibentuk langsung oleh RE dan kedua oleh golgi.Lisosom merupakan organel yang bentuknya tidak uniform antara satu sama lainnya, cenderung bervariasi bergantung pada isi yang dicerna oleh lisosom tersebut. Namun pada umumnya lisosom memiliki bentuk yang hampir bulat, dengan garis tengah berada pada kisaran 0.05 sampai 1.2 μm. Rata-rata sebuah sel memiliki sekitar tiga ratus lisosom, yang tersebar merata di seluruh sel. Di dalamnya, organel ini memiliki 40 jenis enzim hidrolitik asamseperti protease, nuklease, glikosidase,lipase, fosfolipase, fosfatase, ataupunsulfatase yang dibentuk dalam RE kasar dan dibawa ke Lisosom. Enzim Lisosom menghidrolisa setiap makromolekul biologis, hasil degradasi dikeluarkan ke sitoplasma. Semua enzim tersebut aktif padapH 5 (Asam hidrolase), Enzim itu dinamakan lisozim.
lisosomLisosom adalah salah satu organel sel yang mengandung enzim hidrolitik yang berguna untuk mengontrol pencernaan intraseluler. Lisosom berasal dari kata lyso yang berarti “pencernaan” dan soma yang berarti “tubuh”. Lisosom berbentuk agak bulat dan berdiameter sekitar 1,5 μm. Lisosom hanya berada di sel hewan. Lisosom tidak berada di sel tumbuhan karena pada sel tumbuhan telah memiliki vakuola yang memiliki fungsi yang sama dengan lisosom.
Ada dua jenis lisosom yang dikenal sampai saat ini, yaitu lisosom primer dan lisosom sekunder. Perbedaannnya adalah, bahwa lisosom primer merupakan lisosom yang belum digunakan untuk pencernaan/hirolisis, sedangkan lisosom sekunder merupakan lisosom primer yang telah bekerja dan menyatu dengan membran fagosom.
1. Bagian-Bagian Lisosom
Secara struktur lisosom terdiri atas enzim-enzim hidrolitik dan membran lisosom. Enzim-enzim hidrolitik ini jenisnya bermacam-macam, tergantung substrat apa yang akan dicerna. Enzim-enzim ini disintesis di retikulum endoplasma kasar, lalu dibawa oleh vesikel terselubung ke badan golgi untuk dikemas dan dihantarkan ke lisosom melalui vesikel transportasi. Adapun membran lisosom bertujuan untuk melindungi lisosom dari kebocoran, supaya enzim-enzim hidrolitik di dalamnya tidak keluar dan melahap seluruh isi sel, sehingga sel menjadi mati/habis.
1.1. Membran Lisosom
Membran lisosom sebagai suatu kompartemen di mana enzim pencernaan disimpan secara amanterpisah dari bagian sitoplasma yang lain. Untuk menyediakan pH asam bagi enzim hidrolitik,membran lisosom mempunyai pompa H+ yang menggunakan energi dari hidrolisis ATP.Membran lisosom juga sangat terglikosilasi yang dikenal dengan lysosomal-associated membrane proteins (LAMP). Sampai saat ini sudah terdeteksi LAMP-1, LAMP-2, dan CD63/LAMP-3.LAMP berguna sebagai reseptor penerimaan kantong vesikel pada lisosom.
1.2. Enzim Hidrolitik
Enzim hidrolitik dibuat pada retikulum endoplasma, yang mengalami pemaketan di badan Golgi dan kemudian ke endosom lanjut yang nantinya akan menjadi lisosom.
1.3. Enzim-Enzim Lisosom Lainnya
Lisosom ini memiliki 40 jenis enzim hidrolitik asam seperti protease, nuklease, glikosidase, lipase, fosfolipase, fosfatase, ataupun sulfatase. Semua enzim tersebut aktif pada pH 5
Dari kesemua enzim tersebut, enzim didominasi oleh enzim fosfatase. Enzim fosfatase yang lain adalah monofosfat dan fosfodieterase asam yang substratnta oligobukleotida dan diester fosfat, sedangkan asal lisosomnya adalah sama dengan fosfatase asam yaitu jaringan hewan, tumbuhan dan protista. Enzim yang tergolong dalam nuklease adalah RNA ase substratnya RNA dan DNA-ase substratnya DNA. Enzim hidrolase terdiri dari :
  1. β-galaktosidase substartnya galaktosidasi.
  2. α-glukosidase substratnya glikogen.
  3. α-manosidase substratnya manosida.
  4. β-glukoronidase substarnya polisakarida dan mukopolisakarida.
Kelompok enzim protease adalah enzim katepsin substartnya protein, asal lisosomnya adalah sel hewan. Enzim kolagenase, substratnya kolagen, asal lisosomnya sel tulang. Enzim terakhir dari kelompok protease adalah peptidase substyratnya peptida, asal lisosomnya adalah jaringan hewan, tumbuhan dan protista.
Kelompok enzim terakhir yang terdapat dalam lisosom adalah enzim perombak lipid yang terdiri dari esterase dengan substratnya ester asam lemak, asal lisosomnya jaringan hewan, tumbuhan dan protista, dan enzim fosfolipase dengan substratnya fosfolipid, lisosomnya diduga berasal dari jaringan tumbuhan.
2. Fungsi Lisosom
Secara rinci fungsi lisosom adalah sebagai berikut:
  1. Melakukan pencernaan intrasel
  2. Autofagi yaitu menghancurkan struktur yang tidak dikehendaki, misalnya organel lain yang sudah tidak berfungsi. Mula-mula, bagian dari retikulum endoplasma kasar menyelubungi organel dan membentuk autofagosom. Setelah itu, autofagosom berfusi dengan enzim hidrolitik daritrans Golgi dan berkembang menjadi lisosom (atau endosom lanjut).
  3. Endositosis ialah pemasukan makromolekul dari luar sel ke dalam sel melalui mekanisme endositosis, yang kemudian materi-materi ini akan dibawa ke vesikel kecil dan tidak beraturan, yang disebut endosom awal. Beberapa materi tersebut dipilah dan ada yang digunakan kembali (dibuang ke sitoplasma), yang tidak dibawa ke endosom lanjut. Di endosom lanjut, materi tersebut bertemu pertama kali dengan enzim hidrolitik. Di dalam endosom awal, pH sekitar 6. Terjadi penurunan pH (5) pada endosom lanjut sehingga terjadi pematangan dan membentuk lisosom.
  4. Eksositosis yaitu pembebasan enzim keluar sel, misalnya pada pergantian tulang rawan pada perkembangan tulang keras
  5. Fagositosis merupakan proses pemasukan partikel berukuran besar dan mikroorganisme seperti bakteri dan virus ke dalam sel. Pertama, membran akan membungkus partikel atau mikroorganisme dan membentuk fagosom. Kemudian, fagosom akan berfusi dengan enzim hidrolitik dari trans Golgi dan berkembang menjadi lisosom (endosom lanjut).
  6. Autolisis yaitu penghancuran diri sel dengan membebaskan isi lisosom ke dalam sel, misalnyaterjadi pada saat berudu menginjak dewasa dengan menyerap kembali ekornya
  7. Menghancurkan senyawa karsinogenik.
3. Pembentukan Lisosom
pembentukan lisosomEnzim lisosom adalah suatu protein yang diproduksi oleh ribosom dan kemudian masuk ke dalam RE. Dari RE enzim dimasukkan ke dalam membran kemudian dikeluarkan ke sitoplasma menjadi lisosom. Selain ini ada juga enzim yang dimasukkan terlebih dahulu ke dalam golgi. Oleh golgi, enzim itu dibungkus membran kemudian dilepaskan di dalam sitoplasma. Jadi proses pembentukan lisosom ada dua macam, pertama dibentuk langsung oleh RE dan kedua oleh golgi.
4. Penyakit pada Lisosom
Lisosom yang abnormal menyebabkan penyakit yang fatal atau menyebabkan kematian.Berbagai kelainan turunan yang disebut sebagai penyakit penyimpangan lisosom (lysosomal storage disease) yang dapat mempengaruhi metabolism lisosom.
Lysosomal storage diseases adalah penyakit keturunan yang memengaruhi metabolisme lisosom, terjadi karena mutasi di gen struktural sehingga kekurangan salah satu enzim hidrolitik aktif yang secara normal ada dalam lisosom. Lysosomal Storage Disorder-selanjutnya disingkat LSD-merupakan kelainan genetik yang mengakibatkan ribosom tidak mensintesis enzim-enzim hidrolitik tertentu untuk digunakan oleh lisosom dalam tugasnya sebagai organel pencernaan. Akibatnya, materi/substrat yang seyogyanya dicerna/dihidrolisis menjadi menumpuk oleh karena ketiadaan enzim-enzim tersebut. Penumpukan organel akhirnya menyebabkan kelainan-kelainan tertentu pada tubuh manusia, yang dapat dikenali dari tanda-tanda tertentu. Penyakit ini sangat jarang ditemukan, yaitu sekitar 1 dari 7700 kelahiran manusia.